Marine Engineering | Shipbuilding Institute of Polytechnic Surabaya

LATAR BELAKANG

Sebagai bagian dari Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, Jurusan Teknik Permesinan Kapal mendukung visi dan misi Politeknik sebagai pusat pendidikan profesional yang mengaplikasikan ilmu pengetahuan dan teknologi pada bidang maritim dan menunjang industri terkait yang berwawasan lingkungan.

Sebagai institusi pendidikan tinggi vokasi, Jurusan Teknik Permesinan Kapal telah menerapkan sistem kurikulum berbasis kompetensi dimana Jurusan Teknik Permesinan Kapal telah memiliki kerjasama yang baik dengan Industri sehingga mampu menjamin kompetensi lulusannya. Beberapa industri yang telah bekerja sama dengan Jurusan Teknik Permesinan Kapal antara lain ; PT. Komatsu, PT. Trakindo, PT. PAL Indonesia, PT. Dok dan Perkapalan Surabaya. Selain itu Jurusan Teknik Permesinan Kapal juga bekerjasama dengan GTZ – German selama kurang lebih 10 tahun (1989 – 1998) dalam rangka proyek pengembangan Politeknik Perkapalan. Pada tahun 2006 Jurusan Teknik Perkapalan bekerjasama dengan GTZ Jerman dan Pemerintan Nangroe Aceh Darussalam (NAD) mengadakan Pelatihan Life Skill Bidang Perawatan mesin kapal bagi masyarakat korban tsunami.

Selama kurang lebih 5 tahun Jurusan Teknik Permesinan Kapal mendapatkan hibah kompetisi dari Asean Development Bank (ADB) dan Directorate General of Higher Education (DGHE) melalui program hibah Due – Like (2001 – 2005) dan TPSDP (2001 – 2005). Dari hibah – hibah tersebut Jurusan Teknik Permesinan Kapal semakin berkembang dengan semakin lengkapnya fasilitas, bengkel dan laboratorium serta dengan mengirimkan stafnya untuk studi lanjut di dalam dan luar negeri.

Pada tahun 2007, untuk menjawab tantangan dan kebutuhan industri akan sumber daya manusia dibidang perpipaan, Jurusan Teknik Permesinan Kapal membuka program studi baru, yaitu D4 Teknik Perpipaan (Piping Engineering). Pendirian Program Studi D4 Teknik Perpipaan berangkat dari fakta bahwa lebih 80% sistem didalam kapal didukung dengan jaringan perpipaan. Selain itu apabila ditelusuri, banyak sekali bagian dari industri dan praktek rekayasa (engineering) memerlukan pengetahuan dan ketrampilan yang baik tentang sistem perpipaan. Salah satunya adalah Industri Maritim, dimana jika dikaji lebih jauh bangunan lepas pantai dan kapal secara mutlak membutuhkan sistem perpipaan untuk mendukung operasionalnya. Akan tetapi apabila ditelusuri dari perguruan tinggi, akademik dan politeknik yang menyediakan SDM untuk bidang/sektor perpipaan di Indonesia baik universitas/institut negeri maupun swasta, yang berlokasi di Pulau Jawa bahkan di Luar Jawa secara keseluruhan akan sangat sedikit. Bahkan dari diskusi Komunitas Migas Indonesia (KMI), adalah sangat sulit mencari seorang ahli stress engineering untuk analisa tegangan pipa karena tidak ada alumni dari Perguruan Tinggi di Indonesia yang mempelajari khusus pipa, sehingga harus mendatangkan tenaga ahli dari luar negeri.

Lebih jauh lagi, Jurusan Teknik Permesinan Kapal telah melakukan survey dan analisa terhadap kebutuhan tenaga kerja bidang perpipaan pada berbagai macam Industri Maritim dan di Darat, dan dihasilkan suatu kesimpulan bahwa kesempatan kerja bidang perpipaan masih sangat luas untuk bisa dipenuhi oleh Pendidikan Tinggi di Indonesia. Selain itu Program Studi D4 Teknik Perpipaan ini menjadi satu – satunya dan yang pertama kali ada di Indonesia.

Secara spesifik, D4 Teknik Perpipaan pada tahun 2015 telah menjadi program studi tersendiri . Prodi tersebut akan mempelajari semua aspek (desain, fabrikasi, instalasi, maintenance, reparasi dan safety) dari berbagai macam sistem perpipaan yang ada di Industri berdasarkan kode ataupun standard international yang berlaku. Beberapa kode yang berlaku diantaranya ASME, API, DIN, JIS, ABS, BV dan lain sebagainya.

                Pada Tahun Ajaran 2014/2015, Jurusan Teknik Permesinan Kapal membuka Program Studi Baru, yaitu Program Studi D4 Permesinan Kapal. Latar belakang yang mendorong perlunya dibukanya program studi salah satunya ialah untuk dapat mengantisipasi peluang kerja di bidang kemaritiman, khususnya bidang operasional kapal niaga dengan diterapkannya azaz cabotage. Penerapan Azaz ini menekankan kewajiban digunakannya kapal berbendera Indonesia untuk berlayar dan melakukan fungsi transportasi pada perairan Indonesia. Dengan mempertimbangkan tingginya pertumbuhan ekonomi Indonesia, tentunya Implikasi dari penerapan azas ini tentunya akan meningkatkan volume jumlah kapal yang melakukan kegiatan pelayaran dan perbaikan di Wilayah Indonesia.

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>